Madinatul Qur'an Jonggol Official Website

Kemuliaan Ditentukan Oleh Amal Ketakwaan

KEMULIAAN DITENTUKAN OLEH AMAL KETAKWAAN… BUKAN OLEH ASAL USUL DAN KETURUNAN

Ibnul Qoyyim -rohimahulloh-:

Perkataan Iblis “Saya lebih baik darinya” adalah kedustaan, dan alasannya bahwa dia diciptakan dari api sedang Adam diciptakan dari tanah juga batil.

Karena kelebihan asal-usul penciptaan, tidak otomatis menunjukkan kelebihan hasil yang diciptakan darinya.

Karena Allah bisa saja menciptakan dari unsur yang biasa; makhluk yang lebih mulia dari yang Dia ciptakan dari unsur yang lebih baik, dan ini merupakan kesempurnaan kekuasaan Allah ta’ala.

Lihatlah bagaimana Nabi Muhammad, Ibrohim, Musa, Isa, Nuh, serta para nabi dan rasul lainnya -alaihimus sholatu wasallam- lebih mulia dari para malaikat. Dan madzhab Ahlussunnah; bahwa manusia yang saleh itu lebih mulia dari para malaikat, WALAUPUN asal ciptaan mereka dari cahaya, sedang asal ciptaan manusia dari tanah.

Jadi, kemuliaan bukan karena asal-usul.

Oleh karenanya, para budak dan hamba sahaya yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka lebih baik dan lebih mulia di sisi Allah melebihi orang yang merdeka, meskipun dari keturunan Quraisy dan Bani Hasyim.

Dan alasan Iblis inilah yang akhirnya di warisi oleh para pengikutnya dalam mengedepankan seseorang HANYA karena asal-usul dan nasab, bukan karena keimanan dan ketakwaan. Padahal Allah ta’ala telah mementahkannya dalam firman-Nya:

“Sungguh orang yang paling mulia dari kalian adalah orang yang paling bertakwa”. [Al-Hujurot: 13].

Ditambah lagi, alasan Iblis bahwa api lebih baik dari tanah, ini juga batil. Karena sebenarnya tanah lebih baik dari api dari banyak sisi, bahkan Ibnul Qoyyim -rohimahulloh- menyebutkan 13 alasan mengapa tanah lebih baik dari api.

Diantaranya: bahwa api itu tidak mampu berdiri sendiri, dia membutuhkan media yang asalnya dari tanah agar bisa hidup. Adapun tanah, dia mampu berdiri sendiri, dia tidak membutuhkan api untuk bisa hidup.

Diantaranya: Tanah menumbuhkan banyak kebaikan, sedang api malah sering menghancurkan kebaikan-kebaikan itu.

Diantaranya: Tidak seorang pun mampu hidup tanpa tanah dan apa yang dihasilkannya, tapi orang bisa hidup -dalam waktu yang panjang- tanpa api sama sekali. wallohu a’lam.

[Diringkas dari perkataan Ibnul Qoyyim dalam kitab “Mukhtashor Showa’iq Mursalah” 2/377-383].

Oleh Ustadz Musyaffa Ad Dariny, Lc, MA حفظه الله تعالى

Leave A Reply

Your email address will not be published.